On one fine and easy Sunday, I found myself listening to one of Japanese' renowned animation drama soundtrack; "One More Time, One More Chance" on repeat whilst contemplating about life.
That afternoon, I was randomly craving for the local instant noodles I haven't had in ages; so I decided to make one since it took less than five minutes. In the middle of the cooking process, suddenly I was reminded of the taste of the exact same instant noodles my grandma used to cook me back then. Then I thought to myself; how could an instant noodles a la my late grandma felt that good compared to mine or basically anyone's?? It's amazing how I could still vaguely taste the sweet slash salty-ish taste that seems to be only my grandma could make. And then I was reminded of this egg dish that my housemaid used to make. I couldn't even recall what she called it, but I do remember the taste. It was sweet, and it looked a little bit like an omelette but it wasn't, like it's somehow seasoned with ketchup but then again I wouldn't know for sure.
Hence, I walked down the memory lane to the moments where I thought would last forever—but don't. A family gathering in Puncak; where even the distant family members came as one and we played games together in the morning, had the roasted corn at night while doing the karaoke of Koes Plus or Frank Sinatra's songs. Sleeping next to my grandma at night while brushing my fingers off her wrinkles and her long white hair. Playing along with my cousins and nephews a day before Lebaran at my grandma's old neighborhood; where we used to climb the fence of nearby kindegarten so we could sneak in without getting caught. Trying out my new rollerskates and actually fell on my first attempt, and fell again on the second, and I kept on failing until I wasn't anymore—and I remember how I was in love with my rollerskates and I would wear it anytime, anywhere, including to the hospital on the day where my little brother was born. Driving around in motorbike with my father only so I could fell asleep since it was a little tricky to put me on sleep at night because I was this little kid that seemed to have infinite amount of energy; which my father and I, that time, referred it as "berpetualang". Watching Power Rangers for the first time with my little brother and saw the excitement on his eyes. Piggybacking my grandpa and grandma while strolling around the neighborhood in the morning; then watching their favorite Warkop DKI and Wiro Sableng's episodes afterward. Getting bullied on this bus that carry my friends and I home back then on our kindegarten days just because I told them I love pink, and a friend of mine thought I have no right into liking the same color as her.
Those random thoughts that popped up made me think a lot about no matter how time flies; how years and months and days and seconds passed by, somehow every feelings that we have had were still there under our unconsciousness. They still linger on; those moments last. We never forget a single thing we have had, a single moment we have felt, a single taste we have tried. Somehow, all of our past experiences were ceased to vanish—yet, they were eternal and we bring them with us to the future and they became a part of us; that if somebody ever try to unfold every layers that made us who we are now, they would find fragments of those feelings and moments there.
Anyway, here's the song called "One More Time, One More Chance" I mentioned earlier:
Nama Yayoi Kusama seolah menjadi tidak asing lagi dan tidak eksklusif bagi pekerja seni maupun orang-orang yang bergelut di seni saja ketika salah satu museum kontemporer di Jakarta (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara atau singkatnya, Museum MACAN) menghadirkan karya-karya seniman asal Jepang yang terkenal dengan karya seninya yang didominasi oleh polkadot dengan warna yang vibrant dan colorful itu.
Mengingat pameran ini sifatnya temporer, maka mayoritas “kaum millenial”, so they say, berbondong-bondong berdatangan untuk melihat karyanya, dan tidak sedikit dari mereka yang mengerahkan segala usahanya untuk memakai pakaian yang proper agar kelak foto-fotonya dapat dijadikan konten untuk platform Instagram yang seolah-olah sudah menjadi makanan sehari-hari.
Fenomena kehadiran museum kontemporer yang mengusung karya-karya yang “Instagram-able” ini tentunya membuat beberapa orang menjadi bitter, tidak sedikit yang mengkritik dan mencemooh para millenials yang menurut mereka, hanya datang untuk berfoto, tapi sebenarnya tidak peduli dengan karya seni yang dihadirkan. Walaupun tentunya, tetap ada pula para pecinta seni yang memang hadir untuk melihat seni instalasi dan lukisan karya Yayoi Kusama dan ingin mengetahui arti di balik setiap karyanya.
Hal serupa juga terjadi seiring dengan menjamurnya penyair modern yang kerap dijuluki sebagai “Instagram Poet” seperti Lang Leav, Rupi Kaur, dan R.H Shin, di mana karya-karya mereka lahir dan tumbuh besar melalui sosial media seperti Instagram dan Tumblr; meninggalkan penyair-penyair lama seperti Sylvia Plath dan Pablo Neruda terpaksa harus berakhir di rak buku milik ibu mereka. Puisi-puisi ini bukan hanya dinilai mewakili perasaan yang dimiliki oleh para millenial, melainkan memiliki cover yang cantik dan ilustrasi-ilustrasi yang Instagram-able, sehingga cocok di bawa kemana-mana sebagai tambahan properti untuk mendapatkan hasil foto yang bagus dan menarik.
Lagi-lagi, hal ini menjadi bahan cemooh terhadap kaum millenial, bahwasannya buku-buku puisi yang kembali menjamur di toko buku sekarang sebenarnya hanya sebagai kebutuhan atau pemuas konten para millenial; bahwasannya menurut mereka-mereka yang bitter, sebenarnya kaum millenial ini tidak terlalu peduli dengan bacaan dan makna dari suatu puisi, melainkan mereka hanya ingin memotretnya lalu menyebarkannya di sosial media. Walaupun tentunya, tetap ada pula pecinta puisi yang memang menyukai makna implisit dari setiap puisi yang dibaca.
Lantas, apakah salah jika para “millenial” ini pergi ke museum hanya untuk sekadar befoto-foto ria? Atau jika mereka membeli buku-buku puisi hanya untuk memotretnya, lalu meng-upload-nya ke sosial media?
Menurut saya tidak.
Karena setidaknya, mereka sudah menunjukkan sedikit kepeduliannya akan perkembangan seni di Indonesia, walaupun beberapa orang masih bitter dalam menerima kenyataan ini. Memang, akan jauh lebih baik apabila saya, dan para millenial lainnya mengunjungi museum tidak hanya untuk berfoto-foto, melainkan untuk berkontemplasi dan memahami arti di balik setiap karya seni. Memang, akan jauh lebih baik apabila saya, dan para millenial lainnya membaca suatu karya tidak hanya untuk memotretnya lalu dijadikan konten untuk sosial media, melainkan memahami arti di balik setiap kata yang tertulis.
Namun pada akhirnya, sedikit bentuk kepedulian saja, ketimbang tidak sama sekali, bukankah sudah cukup baik? Perlahan tapi pasti, yang diawali dengan kebutuhan konten, bisa saja berkembang menjadi awal ketertarikan akan karya-karya seni lainnya. Perlahan tapi pasti, kami akan berkembang menjadi generasi yang lebih baik. Lantas, sudah saatnya kita berhenti menghakimi dan mulai saling memberi dukungan positif terhadap satu sama lain.
Nggak kerasa sekarang udah semester 7, semester (insyaAllah) terakhir di kampus. Layaknya semester-semester akhir pada kampus-kampus biasanya, gw pun juga lagi mengerjakan skripsi gw. Topiknya tentang earnings management, dan gw bersyukur dapet dosen pembimbing yang baik dan nggak terlalu susah untuk diajak bimbingan. Beliau juga memberi gw jawaban atas semua kebingungan-kebingungan gw, and I'm beyond thankful for that. Doain ya semoga lancar! :")
Walaupun (alhamdulillah) sejauh ini kegiatan perskripsian gw lancar-lancar aja, tapi harus diakui memang ada masanya dimana mental, hati, dan pikiran gw diuji. Entah kenapa kayak tiba-tiba ada panic attack aja gitu tiap mulai buka file "BAB 1" / "BAB 2". Ada pressure yang implisit, dan gw bingung sebenernya rasa itu datangnya dari mana, tapi gw tau perasaan tertekan itu memang ada.
Nah, biasanya kalo gw lagi ngerasa anxiety dan insecure kayak gini, gw dengerin lagu-lagu self-healing yang bisa bikin gw tenang. Entah karena liriknya, atau karena musiknya, atau bisa juga perpaduan dari dua-duanya. Beberapa lagu yang selama ini jadi andalan gw kalo lagi banyak pikiran itu biasanya lagu-nya Coldplay (terutama Fix You dan O), Sementara-nya Float, Sampai Jadi Debu-nya Banda Neira, Accross the Universe dan In My Life-nya The Beatles—dan kali ini, Kunto Aji dengan album Mantra Mantra-nya berhasil "menyihir" gw.
Kalo ada kata yang melebihi magis, this must be it. Lagu-lagu di album ini powerful, maknanya kuat, liriknya apik, dan musiknya di digubah dengan ciamik. Gw beruntung banget karena salah satu temen deket gw memperdengarkan album ini ketika kita di jalan pulang, dia bilang albumnya enak didengerin kalo lagi banyak pikiran dan bingung mau ngapain atau bingung mau cerita ke siapa.
Kalo mau denger full albumnya, ada di Youtube. Kunto Aji bikin playlist judulnya "Mantra-Mantra".
Sekarang, mumpung hari masih pagi dan gw udah sarapan, sekaligus gw masih mengumpulkan niat untuk ngerjain skripsi, jadi tiba-tiba terlintas di pikiran untuk nulis interpretasi lagu-lagu di album barunya Kunto Aji. FYI, ini nggak semua lagunya ya, cuma lagu-lagu yang bener-bener meninggalkan kesan buat gw.
1. Sulung
Lagu ini ajaib. 1 menit 54 detik yang paling cepet bikin air mata tumpah dan hati rasanya langsung seketika tenang. Selalu merinding kalo denger lagu ini. Liriknya sederhana, cuma: "Cukupkanlah.. ikatanmu. Relakanlah yang tlah seharusnya untukmu" dan diulang2 terus sampai di akhir lagu baru ada, "Yang sebaiknya kau jaga.. adalah dirimu sendiri".
Berhubung gw anak sulung, jadi lagu ini mengandung makna yang cukup dalem sih buat gw. Sulung ini kayak seolah-olah meminta anak-anak pertama, anak-anak Sulung, untuk ikhlas menerima kenyataan kalau kita-kita ini anak pertama, yang memang harus jadi tulang punggung keluarga (kelak) dan harus rela memikul tanggung jawab yang besar. Lirik yang cuma 2 bait itu cukup untuk menyampaikan pesan kalau sebagai anak sulung, kita harus bisa jadi contoh yang baik untuk adik-adik, harus jadi anak yang sukses supaya bisa bantu orang tua kita nanti, dan harus ikhlas mengalah sama adik.
Tapi, di sini Kunto cukup adil. Di akhir lagu dia mengingatkan para anak-anak sulung kalau kita nggak melulu harus menjaga, menghalah, dan mendahulukan adik kita, ada kalanya kita tetep harus mementingkan kesenangan diri (tanpa merugikan adik, tentunya).
2. Saudade
Judul "Saudade"-nya ini sendiri menurut gw udah tergolong magis. Soalnya, Saudade itu nggak ada terjemahannya bahkan dalam bahasa Inggris. Kalo menurut Wikipedia, ini definisinya:
"Saudade is a deep emotional state of nostalgic or profound melancholic longing for an absent something or someone that one loves. Moreover, it often carries a repressed knowledge that the object of longing might never return.
Saudade was once described as "the love that remains" after someone is gone. Saudade is the recollection of feelings, experiences, places, or events that once brought excitement, pleasure, well-being, which now triggers the senses and makes one live again.
It can be described as an emptiness, like someone (e.g., one's children, parents, sibling, grandparents, friends, pets) or something (e.g., places, things one used to do in childhood, or other activities performed in the past) that should be there in a particular moment is missing, and the individual feels this absence. It brings sad and happy feelings altogether, sadness for missing and happiness for having experienced the feeling."
Lagunya melankolis, tapi asik banget! Wajar sih soalnya musiknya diproduksi sama Bam Mastro. Nah, makna yang gw tangkap, Saudade ini lebih kayak lagu dari orang tua untuk anak. Di bagian ini, terdengar seperti wejangan untuk anaknya, "Jadi besar dan bestari, serap serap yang baik untukmu.. apapun yang terjadi."
Dan keseluruhan lagu ini menurut gw menggambarkan harapan-harapan dan doa dari orang tua bagi anaknya (apalagi pas bagian "Perjalanan, takdir dan kenangan.. berselimut doa, hangatnya akan terjaga..") agar kelak tumbuh besar menjadi orang yang bermanfaat, dan sebagai orang tua, mereka menjanjikan untuk selalu ada bagi anak-anak mereka, dan akan selalu menyambut ketika anak-anak mereka lelah dengan dunia dan ingin pulang; "Disana berdirilah engkau, dengan senyuman dan keping harapan.. Di belakang, tempatmu bersandar.. tanganku terbuka kapan pun kau ingat pulang.."
3. Rehat
Magis dan mewah. Itu sih 2 kata yang paling pas untuk menggambarkan lagu ini. Nationalanthem bagi jiwa-jiwa yang gelisah, jiwa-jiwa yang ragu dan bingung, jiwa-jiwa yang merasa bersalah, jiwa-jiwa yang nggak ikhlas akan suatu kejadian. Lagu ini, persis seperti judulnya, emang bikin pikiran "Rehat" dari hal-hal yang mengganggu; "Tenangkan hati, semua ini bukan salahmu.. Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi.. Kita coba lagi, untuk lain hari.. Yang ditunggu, yang diharap, biarkanlah semesta bekerja.. untukmu."
Lagu ini berdurasi 5 menit 54 detik, tapi dari menit ke 3.11 sampe terakhir, diisi oleh instrumen. Cantik dan magical. Jenis lagu yang menyihir pendengarnya untuk healing dan bangkit. Mengingatkan gw sama lagu-lagu klasik, dan kalo dibikin film, instrumen ini cocok jadi latar belakang suara ketika malam hari, pemerannya lagi menelusuri pinggir laut atau sungai sambil narik nafas dan teriak sekencang-kencangnya, lalu terduduk dan nangis tersedu-sedu. Bukan, bukan meratapi nasib, tapi jenis tangisan yang keluar karena merasa lega sudah bisa melampiaskan emosi dan bebannya ke luar dari tubuhnya.
Musiknya sendiri diproduksi sama Petra Sihombing, dan terkait dengan instrumen ini, gw pernah baca di Instagramnya Petra kalo Kunto sendiri yang minta untuk ada "momen kontemplasi intsrumental yang agak lama" dan terinspirasi dari Solfeggio Frequencies. Jadi, emang ini idenya datang dari Kunto, dan Petra berhasil menerjemahkan keinginan Kunto dengan sangat, sangat apik. Menurut Petra, ini juga pertama kalinya dia bikin komposisi instrumental selama itu dalam lagu.
Tambahan kata yang pas untuk menggambarkan Rehat; gila!
4. Jakarta Jakarta
Satu lagi lagu di album ini yang diproduksi Petra Sihombing, musiknya asik parah! Cocok didengerin pas lagi macet-macetan di jalan pulang menuju rumah. Dan lagu ini ada "jumpscare"-nya di menit ke 1.04 yang bikin gw kaget karena transisinya drastis banget hahaha.
Pada intinya, lagu ini menggambarkan perasaan semua warga Jakarta sih. Sebenernya capek sama kondisi ibukota ini; hingar bingar, berisik, macet, gaduh, dan bikin capek, tapi di satu sisi, kota ini juga yang membentuk gw jadi diri gw yang kuat dan tegar kayak sekarang. Jadi, semacam bittersweet love sih ya.
Makna lain dari Jakarta Jakarta ini menurut gw, adalah supaya kita menolak semangat kita dipadamkan dan dikalahkan oleh apapun; apalagi cuman karena ibukota yang terkenal kejam ini! Toh, karena "kekejaman" ibukota juga yang bikin kita bisa jadi pribadi yang lebih tangguh. "Jakarta, Jakarta dan kenangannya.. berpacu memburu impianku..Sekeras-kerasnya.. benturkan.. bentuklah dirimu."
5. Bungsu
Nggak, ini bukan lagu Sulung yang salah judul jadi Bungsu. Itu juga yang pertama kali gw rasain ketika denger lagu ini; "Hah?? Salah nggak sih ini judulnya Bungsu tapi lirik dan nadanya sama?!" hahaha ternyata gw kurang teliti. Lagu ini durasinya lebih lama, 2 menit 10 detik dan kalau didengarkan baik-baik, ternyata liriknya beda.
"Cukupkanlah ikatanmu.. relakanlah yang tak seharusnya untukmu.. Sebelum kau menjaga.. merawat.. melindungi segala yang berarti.. Yang sebaiknya kau jaga, adalah dirimu sendiri.."
Kalau di Bungsu ini, menurut gw, anak-anak terakhir yang cenderung lekat dengan stereotype 'manja' dan 'apa-apa harus diturutin' diingatkan untuk "relakanlah yang tak seharusnya untukmu", maksudnya adalah supaya mereka ini nggak egois. Walaupun anak bungsu, tapi nggak boleh juga minta semua hal yang kakaknya punya. Ini lagu kayak teguran sih ya bagi anak bungsu, karena cara Kunto menyanyikan lagu ini juga seolah-olah "tegas" dibanding yang Sulung (kalau Sulung, lebih terdengar seperti menenangkan).
Premisnya sederhana, tapi maknanya itu loh!
6. Pilu Membiru
Buat yang pernah kehilangan dan berpisahnya secara tiba-tiba, lagu ini kental menggambarkan perasaan yang belum hilang. Perasaan yang masih tertinggal. Walaupun tentunya banyak orang yang menginterpretasikan lagu ini sebagai lagu romansa untuk mantan pacar atau seseorang dari masa lalu, tapi secara personal gw merasa lagu ini pas banget menggambarkan perasaan gw setelah ditinggal mbah gw. Nggak pernah nggak banjir kalo denger lagu ini. Mas Kun, terima kasih banyak karena sudah menciptakan lagu semagis ini.
Di bagian; "Akhirnya kulihat lagi sederhana tanpa banyak cela, wangimu.. berlalu. Akhirnya kulihat lagi jemarimu yang bergerak bebas, seiring.. tawamu." ini gw anggap, gw bertemu sama mbah gw lagi walaupun hanya di mimpi. Dan gw sadar kalau posisi beliau itu nggak akan tergantikan oleh siapapun, "Tak ada yang seindah matamu, hanya rembulan.. Tak ada yang selembut sikapmu, hanya lautan.. Tak tergantikan, walau kita tak lagi saling menyapa.."
Dan, ada bagian yang bikin gw merinding dari lagu ini, yaitu pas bagian Kunto nyanyi "Masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu.. Masih banyak belum sempat, aku sampaikan padamu.."
Mbah, if I could turn back the time, I would love to go back to that night. I wish I hugged you tighter that night. I wish I told you how much you mean to me, how much I love you and need you by my side.. :")